Menjadi tumpuan harapan besar bagi keluarga,
bukanlah hal yang mudah. Seorang Rizqi Okta Ekoputris lahir di sebuah keluarga
menengah kebawah yang dikepalai oleh seorang guru dari suatu SMP negeri di
suatu kota sub-urban, Jember. Dialah yang menjadi tumpuan dan harapan pertama
bagi keluarga yang memiliki tingkat kecerdasan diatas rata-rata ini. Memang
keluarga ini memiliki kecerdasan diatas rata-rata dan bisa jadi beliau-beliau
lah yang terlebih dahulu membawa nama baik keluarga dan berkontribusi besar
bagi negara. Namun sayang, ayah saya yang bercita-cita ingin menjadi insinyur
tidak diijinkan berkuliah di luar kota sehingga hanya bisa berkuliah FKIP di
Universitas Jember karena terkendala biaya. Sedangkan ibu saya, yang selalu
menjadi juara kelas, hanya lulus sampai jenjang SMA karena terkendala biaya dan
minimnya informasi mengenai beasiswa. Dengan permasalahan tersebut, kesuksesan
ini seolah-olah wajib diraih oleh saya selaku anak pertama dan memiliki
prestasi yang cukup mumpuni. Oleh karena itu, saya membawa beban cukup besar,
yaitu meneruskan cita-cita orang tua saya yang pupus dan menjadi tumpuan
pertama keluarga untuk meraih kesuksesan. (164kata)
Sukses merupakan suatu hal yang diinginkan bagi
seluruh umat manusia. Sukses ini berarti bermacam-macam oleh tiap individu. Bagi
saya, sukses itu berarti seberapa banyak hal yang berhasil dilakukan dan
seberapa banyak kontrbusi kepada orang lain, terutama bagi orang disekitar
kita. Setiap individu pasti memiliki momen-momen keberhasilannya masing-masing.
Usaha-usaha yang telah dilakukan tersebut dinilai berharga dan berdampak besar
pada kehidupan individu selanjutnya. Namun alangkah baiknya
keberhasilan-keberhasilan tersebut juga bermanfaat bagi orang sekitar. Pada
esai ini saya akan memaparkan keberhasilan yang telah saya capai selama hidup
di dunia ini.
Ketika saya masih kecil,
saya hanyalah anak kecil biasa yang tidak terlalu menonjol. Pada saat itu saya
hanya anak pemalu dan tidak pernah rangking kelas. Saya ingat waktu itu ketika
kelas 4 SD, guru kelas dan kepala sekolah memanggil murid-murid kelas yang
memiliki potensi mengikuti olimpiade akademik tingkat kecamatan untuk maju
kedepan. Nama-nama pun dipanggil ditambah tepuk tangan dari murid-murid kelas.
Kemudian saya bertepuk tangan cukup keras ketika teman sebangku saya dipanggil.
Sembilan siswa telah dipanggil namun guru dan kepala sekolah berdiskusi kecil
dengan berbisik-bisik cukup lama. Entah apa yang didiskusikan oleh beliau
padahal bangku saya tepat di meja guru. Setelah sekian lama, saya kaget
ternyata beliau memanggil nama saya untuk maju kedepan sebagai orang terakhir.
Entah kenapa guru saya menyadari kemampuan saya, mungkin saja beliau melihat
nilai-nilai saya yang cukup bagus di mata pelajaran matematika, IPA, dan IPS
karena mata pelajaran yang dilombakan memang tiga mata pelajaran tersebut. Inilah
kompetisi pertama saya. Soal demi soal saya kerjakan sesuai dengan pengetahuan
saya. Beberapa minggu setelah kompetisi, hasil kompetisi pun keluar. Ternyata
saya ada di peringkat 9 se-kecamatan. Dari sepuluh perwakilan siswa dari SD saya,
saya termasuk peringkat tiga. Saya memang tidak bisa melanjutkan ke tingkat kabupaten
namun pada saat itulah SD saya mulai diberi pembinaan khusus. Inilah kesuksesan
dan kontribusi pertama kali saya. Saya mampu membuat bangga SD saya dan orang
tua saya untuk pertama kalinya.
Kelas 5 SD, inilah puncak prestasi saya
pada saat SD dulu. Saya otomatis mendapatkan gold ticket sebagai perwakilan dari SD saya untuk mengikuti
kompetisi serupa namun masih tingkat kecamatan. Berbeda untuk kelas 5, selain
total nilai dari tiga mata pelajaran yang dilombakan, ternyata ada peringkat
khusus untuk setiap ketiga mata pelajaran ini. Alhasil, ternyata saya memeroleh
peringkat 9 lagi untuk akumulasi total namun saya memeroleh peringkat 2 untuk
mata pelajaran matematika. Jadi saya melanjutkan ke tingkat kabupaten untuk
pelajaran matematika. Beberapa saat kemudian, terdapat olimpiade komputer
tingkat kecamatan dan saya iseng-iseng mencobanya. Dan ternyata saya memeroleh
peringkat 1 dan lanjut ke tingkat kabupaten. Setiap harinya saya mengikuti
pembinaan untuk olimpade matematika dan malamnya saya mengikuti pembinaan untuk
olimpiade komputer. Entah tidak ada rasa capek walaupun saya sering pulang
malam karena saya merasa sangat senang sekali sebagai siswa yang berkontribusi
untuk membawa nama baik SD saya. Untuk olimpiade matematika saya mendapatkan
peringkat belasan sehingga saya tidak bisa lanjut ketingkat provinsi. Namun
untuk olimpiade komputer, saya berhasil memeroleh peringkat 1 se-kabupaten. Sayang,
olimpiade komputer ini hanya sampai tingkat kabupaten saja karena olimpiade ini
masih tergolong baru dan untuk tingkat provinsi hingga nasional masih belum
ada.
Pada
saat SMP dan SMA, saya rutin mengikuti berbagai macam perlombaan matematika.
Namun untuk OSN, saya belum pernah tembus ke tingkat provinsi. Saya hanya
menjuarai beberapa lomba yang diadakan oleh suatu SMA dan universitas saja di
tingkat karisidenan dan provinsi. Pada saat saya berkuliah di Teknik
Informatika ITS, saya lebih terfokus untuk mengikuti organisasi dan kepanitian
saja sehingga saya hanya sedikit mengikuti berbagai perlombaan. Pada semester 7
saat itu, saya sudah tidak lagi mengikuti organisasi dan kepanitiaan sehingga
saya mencoba untuk mengikuti kompetisi Data Mining Gemastik 9 yang diadakan oleh
Kemenristek Dikti. Pada saat penyisihan, kita mengerjakan soal yang diberikan
via online karena pada saat itu kami
sedang kerja praktek di perusahaan masing-masing. Dan ternyata kami berhasil
lolos ke final dan bertanding di UI. Soal yang diberikan kita kerjakan
bersama-sama dengan waktu yang diberikan dan kemudian mempresentasikan metode
kita ke depan juri. Alhamdullilah, ternyata tim kami mendapatkan medali emas
dalam kategori data mining.
Saya tidak
menyangka lulus dengan IPK 3,83 dalam waktu 7 semester dari lulusan Teknik
Informatika ITS yang dibilang memiliki tes masuk paling susah di ITS. Ketika
saya maju ke tribun untuk penyerahan ijazah pada saat prosesi wisuda, orang tua
saya sangat bangga karena nama saya masuk disebutkan sebagai lulusan cumlaude dan mendapatkan tepuk tangan
dari para wisudawan. Beberapa bulan
kemudian, saya mendapatkan conditional letter
dari University of Queensland.
Berdasarkan
kesuksesan-kesuksesan yang saya raih sebelumnya, saya menyadari bahwa sukses
itu jangan diambil sendiri, namun dibagi-bagikan dengan orang lain juga. Saya
ingat selama saya sekolah dulu, saya tertarik sekali membantu teman-teman saya
yang kurang dalam hal akademik dengan membuat suatu kelompok kecil, terutama
sebelum ujian. Alhamdullilah mereka merasa terbantu dan bisa mendapatkan nilai
sesuai harapan mereka. Saya senang sekali membantu orang lain, namun alangkah
baiknya bila saya dapat berkontribusi dengan penelitian bidang minat saya yaitu
mengenai ilmu data karena Indonesia banyak sekali data-data penting di berbagai
bidang namun kurang terolah dengan baik. Besar harapan saya beasiswa LPDP ini
menjadi sarana saya untuk meraih kesuksesan selanjutnya dalam kehidupan saya
serta memungkin saya memberikan kontribusi yang lebih untuk bangsa dan negara
Indonesia di masa depan
Komentar
Posting Komentar